Pakan memegang peran penting pada ternak ayam. Pakan mempengaruhi pertumbuhan, produksi, dan juga produktivitas. Hingga pemenuhan kebutuhan gisi dan nutrisi bagi ayam menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. Meski demikian pemberian pakan pada ayam kampung tidak serumit dan sesulit pada ayam jenis lainnya seperti ayam Broiler dan ayam Petelur (layer).
Banyak jenis bahan pakan bisa
diberikan untuk pemeliharaan ayam kampung. Bahan pakan yang sudah umum
diberikan seperti konsentrat, dedak, dan jagung. Selain itu masih ada jenis
pakan alternative yang bisa diberikan
berupa sisa dapur atau warung , nasi kering, mie instan remuk, bihun BS,
dan beras rejek, dll.Bahkan akhir-akhir ini kita sering mendengar Maggot BSF
sebagai pakan alternative bagi ternak ayam. Pakan alternative ini diklaim dapat
mengefisienkan pengeluaran untuk biaya pakan.Untuk itu peternak perlu
memperhatikan agar pengeluaran biaya
pakan bisa seefisien mungkin, karena dalam pengusahaan ayam biaya untuk pakan
merupakan komponen terbesar yang bisa mencapai hampir 70% dari seluruh biaya
produksi. Untuk memperoleh keuntungan besar maka peternak dapat melakukan
penghematan pakan dengan cara salah satunya melakukan pemeliharaan ayam bersama
magot secara terintegrasi.
Dalam buddaya ayam kampung,
pemberian pakan yang perlu dilakukan adalah menyiapkan ransum dengan
memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam kampung yaitu Protein Kasar (PK) sebesar
12% dan Energi Metabolis (ME) sebesar 2.500 k.kal/kg.
Sebelum lebih jauh bagaimana
cara pemeliharaan ayam kampung tentang bagaimana cara budidaya ayam
terintegrasi dengan magot, terlebih dahulu kita bicarakan tentang maggot.
Maggot atau dikenal dengan maggot BSF (Black Soldier Fly) adalah larva atau
belatung dari jenis lalat besar berwarna hitam yang terlihat seperti
tawon, biasa disebut dengan larva lalat
tentara hitam. Siklus hidup lalat tentara hitam (BSF) cukup singkat yaitu
berlangsung selama 40-43 hari. Siklus hidup magot dimulai dari lalat dewasa,
telur, larva, pre pupa, dan pupa. Lebih rincinya, fase metamorphose maggot
terdiri dari fase telur selama 3 hari, larva atau magot 18 hari, pre pupa 14
hari, pupa 3 hari, dan lalat dewasa 3 hari. Lalat betina mampu menghasilkan 185-
1235 telur dan akan mati setelah kawin.
Keuntungan memelihara lalat
BSF yaitu siklus pertumbuhannya cepat, ketersediaanya melimpah, produksinya
bisa memanfaatkan sampah/limbah organik, mengandung anti jamur, dan tidak
bersaing dengan manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Siklus maggot yang
dimulai dari maggot dewasa hingga menghasilkan telur, kemudian larvanya seperti
pupa, digunakan untuk bahan pakan sumber protein. Maggot akan bertelur yang nantinya akan dibesarkan
sampai menghasilkan larva. Umumnya, pada umur 15 hari sudah dapat dipanen,
untuk dijadikan pakan ayam peliharaan.
Cara budidaya maggot BSF cukup
sederhana. Larva BSF dapat memanfaatkan left over (sampah) seperti sisa sayuran
maupun buah-buahan yang bersifat organic, termasuk kotoran ayam. Pemeliharaan
magot dapat juga menjadi pilihan terbaik dalam menanggulangi kotoran ayam yang
menggunung.
Dalam pemeliharaan ternak ayam
bersama magot, sebaiknya kandang ayam dibuat
berbentuk kandang panggung. Kandang
dibuat kira-kira 1 meter dari lantai, kemudian di bawah kolong kandang
dibuatkan biopon atau kotak yang terbuat dari kayu atau bahan lain yang bisa
menampung kotoran ayam dan ceceran pakan. Nah pada biopon bawah kandang itulah
maggot dapat dibudidayakan. Maggot dapat besar dan berkembang dengan
memakan kotoran ayam yang tertampung pada biopon. Lebih baik lagi bila terdapat
sisa dapur atau limbah rumah tangga organik lainnya dapat ditambahkan pada
biopon agar maggot dapat menerima asupan pakan yang cukup, sehingga maggot akan
cepat menjadi besar.
Maggot BSF dapat dikembangkan
dengan menggunakan telur. Telur maggot dapat diperoleh dengan menghadirkan
lalat BSF dengan cara sederhana yaitu dengan menaruh buah busuk ke dalam
kotoran ayam, maka akan muncul moggot (larva lalat tentara hitam BSF) di tempat
kotoran ayam. Bila ingin yang lebih mudah, telur dapat diperoleh dengan cara
membeli, harganyapun cukup murah. Kemudian telur diletakkan pada biopon kotoran
ayam di bawah kandang yang dibuat dengan system panggung, atau untuk lebih
baiknya, kotoran ayam dilakukan fermentasi terlebih dahulu selama 7 hari
sebagai media untuk penetasan maggot atau dapat menggunakan dedak halus yang
telah dicampur dengan air mendidih sehingga menjadi seperti adonan bubur. Telur
maggot yang disiapkan kemudian ditaruh di atas adonan yang sudah dingin dengan
menggunakan kertas kecil, setelah itu tutup adonan yang diatasnya terdapat telur maggot dengan menggunakan strimin.
Setelah 7 hari penetasan maggot dapat dilihat maggot kecil atau yang disebut
baby maggot.. Pindahkan maggot kecil ke atas biopon atau di atas kotoran ayam
yang ada di kolong kandang, dalam waktu 15 hari sejak menetas maka maggot dapat
dipanen. Hasil panenan maggot ini dapat langsung diberikan kepada ayam
peliharaan.
Maggot memiliki kandungan
nutrisi tinggi baik protein, asam amino, asam lemak, serta mineral, dan ini
berpotensi sebagai alternatif pakan ternak unggas. Berdasarkan hasil kajian
atau penelitian menggunakan analisa proksimat, maggot mengandung Protein Kasar
(PK) dan lemak cukup tinggi. Kadar lemaknya
berada di atas 20% tergantung dari makanannya, sebab kandungan nutrisi dari maggot tergantung pada asupan
pakannya. Bungkil sawit merupakan pakan maggot yang menghasilkan pertumbuhan
yang paling baik.
Pemberian maggot dalam bentuk
segar sudah banyak dilakukan oleh peternak. Mengingat larva maggot setelah
dipanen akan cepat membusuk bila tidak segera diawetkan, maka perlu dilakukan
pengolahan maggot untuk menjadi tepung maggot, sehingga bisa disimpan jika
produksi maggot banyak, dan tidak segera diberikan pada ayam.
Nah untuk pemeliharaan ayam
yang terintegasi dengan maggot dilakukan seperti memelihara ayam kampung
biasanya, yaitu pemberian pakan, minum, vaksin, dan pengendalian penyakitnya
sama sebagaimana memelihara tanpa integrasi maggot. Sedikit yang berbeda
adalah bentuk kandang. Kandang ayam integrasi maggot seperti yang sudah
diuraikan di depan, sebaiknya dilakukan pada kandang dengan sistem
panggung, atau kandang bertingkat yang
dibuatkan biopon dibawah lantai kandang, sehingga kotoran ayam dapat langsung
turun ke bawah (kolong) atau biopon yang sudah disiapkan. Pada biopon inilah
maggot berkembang. Sangat mudah untuk dilakukan, dan bukan merupakan hal
sulit untuk dilakukan, hanya butuh ketekunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar