Biogas adalah gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat dan cair) homogen seperti kotoran dan urin (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Di samping itu juga sangat mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC ke dalam sistem biogas. Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan, antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem, bisa menyatukan saluran limbahnya ke dalam sistem biogas, sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini dimungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen.
Yang tak kalah pentingnya adalag sampah rumah tangga, kebun dan
sampah pasar. Sampah keluarga sangat lekat dengan kehidupan sehari – hari.
Apabila Ibu – ibu memasak di rumah, pasti akan dihasilkan sampah. Demikian juga
sampah dari makanan yang telah basi. Semua ini adalah bahan organic yang
merupakan sumber biogas.
Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara
(disebut digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik
tersebut dan kemudian menghasilkan gas (disebut biogas). Biogas yang telah
terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas
menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
Nilai kalori dari 1 meter kubik
biogas adalah sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak
diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara,
maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.
Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan karbondioksida (CO2)
yang ikut memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect) yang
bermuara pada pemanasan global (global warming). Biogas memberikan perlawanan
terhadap efek rumah kaca melalui tiga cara: Pertama, biogas
memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan,
kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua, metana (CH4) yang
dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang
terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2.
Pembakaran CH4 pada biogas mengubahnya menjadi CO2
sehingga mengurangi jumlah CH4 di udara. Ketiga, dengan lestarinya
hutan, maka CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang
menghasilkan oksigen yang melawan efek rumah kaca.
Namun kita akui bahwa produksi biogas masih belum mencapai nilai
keekonomiannya, karena harga barang subtitusinya yaitu LPG masih murah. Tak
heran bila produksi biogas masih rendah.
Dikutip dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar