Senin, 25 September 2023

BIOGAS

 Biogas adalah gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat dan cair) homogen seperti kotoran dan urin (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Di samping itu juga sangat mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC ke dalam sistem biogas. Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan, antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem, bisa menyatukan saluran limbahnya ke dalam sistem biogas, sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini dimungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen.

Yang tak kalah pentingnya adalag sampah rumah tangga, kebun dan sampah pasar. Sampah keluarga sangat lekat dengan kehidupan sehari – hari. Apabila Ibu – ibu memasak di rumah, pasti akan dihasilkan sampah. Demikian juga sampah dari makanan yang telah basi. Semua ini adalah bahan organic yang merupakan sumber biogas.

Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (disebut digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik tersebut dan kemudian menghasilkan gas (disebut biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
          Nilai kalori dari 1 meter kubik biogas adalah sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.

Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan karbondioksida (CO2) yang ikut memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect) yang bermuara pada pemanasan global (global warming). Biogas memberikan perlawanan terhadap efek rumah kaca melalui tiga cara: Pertama, biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua, metana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran CH4 pada biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah CH4 di udara. Ketiga, dengan lestarinya hutan, maka CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan oksigen yang melawan efek rumah kaca.

Namun kita akui bahwa produksi biogas masih belum mencapai nilai keekonomiannya, karena harga barang subtitusinya yaitu LPG masih murah. Tak heran bila produksi biogas masih rendah.

 

Dikutip dari berbagai sumber

Jumat, 01 September 2023

EFISIENSI PAKAN DENGAN APLIKASI MAGGOT

 Pakan memegang peran penting pada ternak ayam. Pakan mempengaruhi pertumbuhan, produksi, dan juga produktivitas. Hingga pemenuhan kebutuhan gisi dan nutrisi bagi ayam menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. Meski demikian pemberian pakan pada ayam kampung tidak  serumit dan sesulit pada ayam jenis lainnya seperti ayam Broiler dan ayam Petelur (layer).

Banyak jenis bahan pakan bisa diberikan untuk pemeliharaan ayam kampung. Bahan pakan yang sudah umum diberikan seperti konsentrat, dedak, dan jagung. Selain itu masih ada jenis pakan alternative yang bisa diberikan  berupa sisa dapur atau warung , nasi kering, mie instan remuk, bihun BS, dan beras rejek, dll.Bahkan akhir-akhir ini kita sering mendengar Maggot BSF sebagai pakan alternative bagi ternak ayam. Pakan alternative ini diklaim dapat mengefisienkan pengeluaran untuk biaya pakan.Untuk itu peternak perlu memperhatikan  agar pengeluaran biaya pakan bisa seefisien mungkin, karena dalam pengusahaan ayam biaya untuk pakan merupakan komponen terbesar yang bisa mencapai hampir 70% dari seluruh biaya produksi. Untuk memperoleh keuntungan besar maka peternak dapat melakukan penghematan pakan dengan cara salah satunya melakukan pemeliharaan ayam bersama magot secara terintegrasi.

Dalam buddaya ayam kampung, pemberian pakan yang perlu dilakukan adalah menyiapkan ransum dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam kampung yaitu Protein Kasar (PK) sebesar 12% dan Energi Metabolis (ME) sebesar 2.500 k.kal/kg.

Sebelum lebih jauh bagaimana cara pemeliharaan ayam kampung tentang bagaimana cara budidaya ayam terintegrasi dengan magot, terlebih dahulu kita bicarakan tentang maggot. Maggot atau dikenal dengan maggot BSF (Black Soldier Fly) adalah larva atau belatung dari jenis lalat besar berwarna hitam yang terlihat seperti tawon,  biasa disebut dengan larva lalat tentara hitam. Siklus hidup lalat tentara hitam (BSF) cukup singkat yaitu berlangsung selama 40-43 hari. Siklus hidup magot dimulai dari lalat dewasa, telur, larva, pre pupa, dan pupa. Lebih rincinya, fase metamorphose maggot terdiri dari fase telur selama 3 hari, larva atau magot 18 hari, pre pupa 14 hari, pupa 3 hari, dan lalat dewasa 3 hari. Lalat betina mampu menghasilkan 185- 1235  telur dan akan mati setelah kawin.

Keuntungan memelihara lalat BSF yaitu siklus pertumbuhannya cepat, ketersediaanya melimpah, produksinya bisa memanfaatkan sampah/limbah organik, mengandung anti jamur, dan tidak bersaing dengan manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Siklus maggot yang dimulai dari maggot dewasa hingga menghasilkan telur, kemudian larvanya seperti pupa, digunakan untuk bahan pakan sumber protein.  Maggot akan bertelur yang nantinya akan dibesarkan sampai menghasilkan larva. Umumnya, pada umur 15 hari sudah dapat dipanen, untuk dijadikan pakan ayam peliharaan.

Cara budidaya maggot BSF cukup sederhana. Larva BSF dapat memanfaatkan left over (sampah) seperti sisa sayuran maupun buah-buahan yang bersifat organic, termasuk kotoran ayam. Pemeliharaan magot dapat juga menjadi pilihan terbaik dalam menanggulangi kotoran ayam yang menggunung.

Dalam pemeliharaan ternak ayam bersama magot, sebaiknya kandang ayam dibuat  berbentuk kandang panggung. Kandang  dibuat kira-kira 1 meter dari lantai, kemudian di bawah kolong kandang dibuatkan biopon atau kotak yang terbuat dari kayu atau bahan lain yang bisa menampung kotoran ayam dan ceceran pakan. Nah pada biopon bawah kandang itulah maggot dapat dibudidayakan. Maggot dapat besar dan berkembang dengan memakan kotoran ayam yang tertampung pada biopon. Lebih baik lagi bila terdapat sisa dapur atau limbah rumah tangga organik lainnya dapat ditambahkan pada biopon agar maggot dapat menerima asupan pakan yang cukup, sehingga maggot akan cepat menjadi besar. 

Maggot BSF dapat dikembangkan dengan menggunakan telur. Telur maggot dapat diperoleh dengan menghadirkan lalat BSF dengan cara sederhana yaitu dengan menaruh buah busuk ke dalam kotoran ayam, maka akan muncul moggot (larva lalat tentara hitam BSF) di tempat kotoran ayam. Bila ingin yang lebih mudah, telur dapat diperoleh dengan cara membeli, harganyapun cukup murah. Kemudian telur diletakkan pada biopon kotoran ayam di bawah kandang yang dibuat dengan system panggung, atau untuk lebih baiknya, kotoran ayam dilakukan fermentasi terlebih dahulu selama 7 hari sebagai media untuk penetasan maggot atau dapat menggunakan dedak halus yang telah dicampur dengan air mendidih sehingga menjadi seperti adonan bubur. Telur maggot yang disiapkan kemudian ditaruh di atas adonan yang sudah dingin dengan menggunakan kertas kecil, setelah itu tutup adonan yang diatasnya terdapat  telur maggot dengan menggunakan strimin. Setelah 7 hari penetasan maggot dapat dilihat maggot kecil atau yang disebut baby maggot.. Pindahkan maggot kecil ke atas biopon atau di atas kotoran ayam yang ada di kolong kandang, dalam waktu 15 hari sejak menetas maka maggot dapat dipanen. Hasil panenan maggot ini dapat langsung diberikan kepada ayam peliharaan.

Maggot memiliki kandungan nutrisi tinggi baik protein, asam amino, asam lemak, serta mineral, dan ini berpotensi sebagai alternatif pakan ternak unggas. Berdasarkan hasil kajian atau penelitian menggunakan analisa proksimat, maggot mengandung Protein Kasar (PK)  dan lemak cukup tinggi. Kadar lemaknya berada di atas 20% tergantung dari makanannya, sebab kandungan  nutrisi dari maggot tergantung pada asupan pakannya. Bungkil sawit merupakan pakan maggot yang menghasilkan pertumbuhan yang paling  baik.

Pemberian maggot dalam bentuk segar sudah banyak dilakukan oleh peternak. Mengingat larva maggot setelah dipanen akan cepat membusuk bila tidak segera diawetkan, maka perlu dilakukan pengolahan maggot untuk menjadi tepung maggot, sehingga bisa disimpan jika produksi maggot banyak, dan tidak segera diberikan pada ayam.

Nah untuk pemeliharaan ayam yang terintegasi dengan maggot dilakukan seperti memelihara ayam kampung biasanya, yaitu pemberian pakan, minum, vaksin, dan pengendalian penyakitnya sama sebagaimana memelihara tanpa integrasi maggot. Sedikit yang berbeda adalah bentuk kandang. Kandang ayam integrasi maggot seperti yang sudah diuraikan di depan, sebaiknya dilakukan pada kandang dengan sistem panggung,  atau kandang bertingkat yang dibuatkan biopon dibawah lantai kandang, sehingga kotoran ayam dapat langsung turun ke bawah (kolong) atau biopon yang sudah disiapkan. Pada biopon inilah maggot berkembang. Sangat mudah untuk dilakukan, dan bukan merupakan hal sulit untuk dilakukan, hanya butuh ketekunan.

Menurut beberapa praktisi yang sudah memelihara ayam bersama maggot, bahwa dengan memelihara ayam bersama maggot dapat menghemat pakan konvensional hingga 25-40%. Dan ternyata manfaat lain yang dialami oleh pembudidaya , dengan maggot bisa mengatasi permasalahan sampah dari yang tidak bernilai menjadi bernilai ekonomis. Manfaat lainnya, yaitu maggot dapat mereduksi bau potensial limbah sekitar 50- 60% sehingga dapat mereduksi polusi, bakteri patogen, bau, dan mampu menekan populasi lalat rumah dengan mengurangi kesempatan lalat rumah untuk bertelur/oviposisi.(Dari berbagai sumber)

Maggot

 

Budidaya Maggot dan Potensi Keuntungannya

Mendengar kata maggot bagi sebagian awan mungkin masih terdengar asing di telinga. Namun, ketika mendengar kata belatung mungkin sudah sering kita dengar dan lebih familiar karena bentuknya yang menggelikan dan membuat bulu kuduk merinding.

Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan belatung merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens dalam bahasa Latin. Seperti yang sudah disebutkan bahwa maggot merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan bermetamorfosis menjadi lalat dewasa.

Tubuh maggot berwarna hitam dan sekilas mirip dengan tawon. Siapa sangka dibalik itu semua, maggot memiliki potensi untuk dibudidayakan. Bagi beberapa orang, budidaya maggot merupakan potensi yang menggiurkan untuk dikembangkan.

Potensi Besar Budidaya Maggot

Budidaya maggot tidak begitu sulit untuk dikembangkan, mengingat maggot berkembang biak dengan alami di alam sehingga mudah untuk mendapatkannya. Maggot bertahan hidup pada lingkungan tropis maupun subtropis sehingga potensi mengembangbiakannya sangat mudah dilakukan di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

Perkembangbiakan Maggot berada pada media yang bersih yaitu pada media yang beraroma fermentasi sehingga lalat BSF tidak mengundang penyakit. Lalat BSF merupakan hewan yang memiliki antibiotik alami dalam tubuhnya yang membuatnya tidak membawa penyakit.

Lain halnya apabila dibandingkan dengan lalat hijau yang biasa berkembang biak pada media yang kotor atau busuk sehingga mudah mendatangkan kuman dan bakteri. Untuk mendatangkan maggot pada dasarnya cukup mudah. Seperti yang sudah disebutkan bahwa lalat BSF berkembang biak pada media yang mengandung fermentasi, maka untuk memancingnya datang kita hanya memerlukan media berfermentasi agar lalat BSF berkembang biak ditempat yang telah disiapkan.

Langkah-langkah Budidaya Maggot

Beberapa langkah berikut ini dapat dilakukan untuk memancing lalat BSF agar dapat dikembangbiakan sebagai upaya budidaya maggot.

Bahan-bahan yang diperlukan

  1. Dedak atau bekatul sebanyak 5 kg
  2. EM4 atau dapat digantikan dengan yakult sebanyak 1 botol
  3. Gula pasir 5 sendok makan
  4. Air sebanyak 1 liter
  5. Penyedap rasa

Peralatan yang dibutuhkan

  1. Ember (1 berukuran besar dan 1 berukuran kecil) atau dapat diganti dengan baki
  2. Tali untuk mengikat
  3. Kantong plastik berwarna bening
  4. Dedaunan atau sisa makanan

Langkah-langkah

  1. Pertama, siapkan ember kecil dan isi dengan air sebanyak 1 liter. Tambahkan gula pasir dan EM4 atau yakult kemudian aduk hingga rata.
  2. Siapkan ember besar dan isi dengan dedak atau bekatul dan tambahkan penyedap rasa dengan tujuan agar aromanya lebih menyengat untuk memancing lalat BSF. Aduk hingga rata
  3. Campur larutan dari ember kecil ke ember besar sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata. Campuran keduanya tidak terlalu kering atau terlalu basah.
  4. Masukan campuran keduanya dalam plastik bening separuhnya saja dan ikat ujungnya karena dedak akan berfermentasi dan mengeluarkan gas sehingga perlu adanya ruang udara untuk gas fermentasi. Ikat ujung plastik bening dengan rafia dan simpan di tempat yang sejuk dan tunggu selama 4-5 hari.
  5. setelah melewati waktu 4-5 hari, kantong plastik sudah bisa dibuka. Fermentasi berhasil apabila muncul aroma fermentasi yaitu aroma seperti tape.
  6. Fermentasi dedak atau bekatul dapat disimpan ditempat yang aman dari hewan yang mengganggu dan ditutup dengan dedaunan atau bisa ditaburkan sisa makanan diatas campuran. Suhu maksimal tempat penyimpanan maggot antara 30-38 derajat celcius. Lebih bagus apabila tempat penyimpanan cukup mendapatkan sinar matahari agar kandang tetap hangat untuk membantu proses penetasan telur serta sirkulasi udara juga harus baik.
  7. Aroma dari fermentasi akan memancing lalat BSF untuk hinggap dan bertelur di sekitar dedak hasil fermentasi.
  8. Lalat BSF akan bertelur pada media berfermentasi kurang lebih selama 1-3 hari. Kemudian telur-telur ini akan menetas dan bergerak dengan sendiri dan memakan makanan yang ada pada media fermentasi tersebut. Dalam waktu 2-3 minggu maggot akan tumbuh besar dan siap untuk dipanen. Jangan lupa sisakan maggot agar bisa dijadikan bibit untuk mendapatkan telurnya kembali. Dengan cara tersebut tidak begitu sulit untuk memulai mengembangkan budidaya maggot.

 

MAGGOT

Laju peningkatan harga pakan komersial untuk usaha budidaya ikan membuat pembudidaya sulit berkembang, 60—70% biaya produksi berasal dari pakan. Larva serangga Hermetia illucens atau black soldier fly (BSF) yang sering disebut dengan istilah magot hadir sebagai salah satu pakan alternatif ikan. Magot dipilih sebagai pakan alternatif karena memiliki protein hingga 50% serta mudah dibudidayakan massal. Budidaya magot sebagai pakan ikan juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Aplikasinya tergolong murah, tidak rumit, dan tidak perlu modal besar. Peternak bisa menghasilkan 100—200 kg magot/hari. Anda dapat memulai usaha dengan modal minim dan bisa memanfaatkan sebagian ruangan di sekitar rumah. Hal menarik lainnya adalah kemampuan magot dalam mengonversi limbah menjadi pupuk organik yang sangat berguna untuk tanaman.

Manfaat dan Potensi Maggot untuk Budidaya

Dengan mudahnya memperoleh maggot, budidaya maggot dapat dilakukan oleh siapapun. Potensi yang dapat dikembangkan cukup menggiurkan karena biayanya yang murah dan ramah lingkungan. Berikut ini beberapa potensi yang dapat diraup dari budidaya maggot yang mungkin belum Anda ketahui.

1.     Maggot Mampu Menguraikan Sampah

Sampah merupakan masalah serius yang membutuhkan penanganan khusus karena tidak mudah untuk mengurangi produksinya. Indonesia masuk dalam kategori negara yang menghasilkan sampah terbesar nomor 4 (empat) di dunia. Diperkirakan setiap tahun produksi sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton.

Tidak hanya dari perkotaan, tetapi juga dapat dihasilkan di daerah pedesaan. Permasalahan sampah organik menjadi salah satu yang masih sulit untuk diatasi. Ketersediaan tempat penampungan dan pengolahannya masih sulit untuk diatasi terutama pada lingkungan yang padat penduduk. Sering kita mendengar bencana banjir yang disebabkan karena tersumbatnya selokan atau saluran pembuangan air.

Permasalah seperti ini biasa ditemui di beberapa kota besar. Pada perkembangannya, sebenarnya beberapa teknologi diciptakan untuk dapat menguraikan sampah, salah satunya adalah teknologi pengomposan dengan metode konvensional.

Metode ini menggunakan beberapa bahan kimia untuk menciptakan mikroba yang bertugas untuk menguraikan sampah. Akan tetapi, proses pengomposan memerlukan waktu yang cukup lama karena kemampuan mikroba tersebut dalam menguraikan tidak sebentar.

Namun, siapa sangka budidaya maggot ternyata dapat membantu mengatasi permasalahan seputar sampah. Maggot hidup dengan cara memakan limbah organik. Kemampuan maggot dalam menguraikan terbilang cepat, dikarenakan maggot termasuk serangga yang cukup rakus dalam memakan makanannya sehingga cepat dalam menguraikan sampah organik. Dibandingkan dengan mikroba lain, maggot lebih cepat menguraikan sampah.

Setelah menetas, maggot membutuhkan sampah organik sebagai makanan untuk bertahan hidup. Maggot bukanlah serangga jenis hama sehingga pengembangbiakannya untuk menguraikan limbah termasuk aktivitas yang ramah lingkungan.

Produksi limbah terbesar dapat dikatakan berasal dari sektor pertanian dan perkebunan. Sebagai gambaran, satu ekor maggot memiliki kemampuan mengurai sebesar 25-500 mg dalam waktu satu hari, sementara  15 ribu maggot mampu menguraikan sampah sekitar 2 kg dalam kurun waktu 24 jam.

Satu ekor induk lalat BSF mampu menghasilkan 400-800 telur sehingga dalam satu kali bertelur jumlah maggot yang akan didapatkan terbilang sangat banyak hanya untuk satu ekor induk saja. Dengan demikian, budidaya maggot yang diintegrasikan dengan sektor pertanian dan perkebunan tidak salah untuk dikembangkan dan dapat menguntungkan untuk semua pihak.

2.     Maggot Dapat Dijadikan Pakan Ternak

Dalam beternak, pakan merupakan hal yang tidak boleh untuk dilewatkan. Kualitas hewan ternak dapat ditentukan dari pemberian pakan yang baik. Agar ternak tumbuh dengan sehat dan berkualitas, pakan ternak yang diberikan juga harus berkualitas.

Berbagai macam pakan ternak yang memiliki kualitas yang unggul dijual di pasaran. Salah satu yang menjadi unggulan sebagai pakan ternak merupakan hasil budidaya maggot yang dikembangkan oleh masyarakat.

Maggot biasanya diberikan untuk beberapa hewan ternak seperti jenis unggas maupun untuk jenis ikan. Larva lalat BSF atau maggot merupakan pakan ternak yang bernilai unggul dikarenakan kandungan beberapa nutrisi dalam maggot baik untuk ternak.

Dalam tubuh maggot terkandung asam amino dan protein sebesar 40%. Zat-zat lain juga dapat ditemukan dalam maggot sehingga jenis pakan ternak ini akan semakin banyak penggemarnya. Disisi lain, penggunaan maggot sebagai pakan ternak dapat dikatakan memiliki banyak keunggulan.

Pertama, maggot merupakan hewan yang tidak berbau amis dan tidak membawa atau menularkan penyakit sehingga tidak akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan karena baunya.

Kedua, mudah dicerna oleh ternak karena berukuran kecil dan kandungan nutrisi yang unggul akan membuat ternak tumbuh dengan sehat dan bobot hewan tumbuh secara alami karena nutrisi yang dikonsumsinya.

Ketiga, budidaya maggot mudah untuk dilakukan dan tidak membutuhkan tempat yang luas sehingga mudah untuk didapatkan dan biaya budidaya tergolong murah. Terlebih waktu panen larva lalat ini cukup teratur dan jelas.

Peternakan dengan skala besar tentu mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengadaan pakan ternak yang berkualitas. Dengan memanfaatkan maggot sebagai pakan ternak, biaya yang dikeluarkan dapat ditekan sehingga akan menambah keuntungan.

3.     Pupuk dari Maggot

Indonesia merupakan salah satu negara yang memanfaatkan sektor pertanian dalam pembangunan negara. Masyarakat banyak yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian. Dalam dunia pertanian, pupuk memegang peranan yang cukup penting. Untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas baik, dibutuhkan pupuk yang mampu menunjang kesuburan tanah atau lahan.

Namun, harga pupuk di pasaran terbilang cukup mahal. Apabila harga pupuk mahal, para petani tentu harus berpikir dua kali untuk membelinya. Dengan demikian, diperlukan pupuk alternatif yang mampu mengatasi persoalan ini. Pupuk alternatif ternyata dapat dihasilkan dari seekor hewan bernama maggot. Dengan memanfaatkan budidaya maggot yang dilakukan masyarakat, hal tersebut bisa digunakan untuk sektor pertanian.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa maggot dapat menguraikan sampah organik dengan baik. Kemampuan ini yang membuat proses penguraian sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk organik untuk tanaman.

Dengan memanfaatkan kasgot, pupuk organik dapat diperoleh. Adapun yang dimaksud dengan kasgot yaitu uraian atau sisa dari sampah yang dimakan hasil dari budidaya maggot. Kasgot inilah yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk tanaman oleh para petani. Dalam kasgot terdapat beberapa unsur yang baik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan kualitas hasil tanaman.

Pemanfaatan Kasgot hasil budidaya maggot sebagai pupuk organik lebih aman untuk digunakan dalam pertanian bila dibandingkan dengan penggunaan pupuk sintetis yang banyak dijual. Unsur-unsur yang terdapat dalam kasgot dapat memperbaiki struktur tanah, baik itu struktur kimia, biologi, dan fisika sehingga membuat menyeimbangkan tanah dan dapat menyuburkan.

Sedangkan pada pupuk sintetis, unsur-unsur kimia yang ada di dalamnya ternyata tidak dapat diserap dengan sempurna oleh tanaman. Sisa unsur yang tidak diserap ini akan menempel pada tanah sehingga membuat tanah menjadi keras karena sifatnya mirip dengan lem apabila terkena air yang menyebabkan tanah menjadi lengket dan tidak subur.

Tanah juga akan berubah menjadi asam karena unsur kimia tersebut. Hal ini memicu beberapa hewan yang hidup di tanah terkena dampaknya dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kepunahan.

Penggunaan pupuk sintetis secara berkepanjangan berdampak pula untuk manusia. Unsur-unsur kimia yang terbawa air hasil dari penggunaan pupuk sintetis yang apabila sampai dikonsumsi oleh manusia tentu akan menyebabkan permasalahan kesehatan yang serius dan fatal karena bukan porsinya untuk dikonsumsi.

Dengan memanfaatkan budidaya maggot sebagai penghasil pupuk organik ternyata dapat membantu para petani dalam menghasilkan tanaman yang berkualitas untuk dikonsumsi dan turut menjaga lingkungan dari bahaya pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk sintetis.

Budidaya maggot penghasil kasgot untuk menghasilkan pupuk organik masih sedikit yang menyadarinya. Maka dari itu, perlu adanya pengembangan agar masyarakat mulai beralih menggunakan pupuk organik dibandingkan dengan pupuk sintetis yang berbahaya.

 

Lima Tahap atau Fase Metamorfosis Maggot

Untuk memulai budidaya maggot terbilang mudah. Maggot memiliki fase metamorfosis yang cukup cepat. Tergolong ke dalam lima tahap, berikut ini fase metamorfosis dari maggot:

1.    Telur

Lalat BSF berkembang biak pada lingkungan yang berfermentasi. Perkawinan lalat jantan dan betina akan menghasilkan telur. Induk maggot dapat memproduksi telur maggot antara 400 hingga 800 telur. Butuh waktu sekitar 4 hari bagi telur maggot untuk menetas menjadi instar.

2.    Instar (Larva)

Pada fase ini, instar belum memiliki mulut yang sempurna untuk mengkonsumsi makanannya sehingga membutuhkan makanan yang bertekstur lembut. Panjang tubuh dapat mencapai 2,5 cm dan lebarnya 0,5 cm dengan warna krem atau kehitam-hitaman sepanjang tubuhnya. Masa hidup instar yaitu sekitar 14 sampai 16 hari. Instar inilah yang biasa disebut dengan maggot.

3.    Prepupa

Fase ketiga pada perkembangan maggot adalah prepupa yang merupakan peralihan dari instar menjadi pupa. Pada fase ini, maggot cocok dijadikan sebagai pakan ternak untuk ikan baik itu untuk unggas atau ternak ikan.

4.    Pupa

Pupa merupakan fase ujung dari pertumbuhan maggot atau dapat dikatakan sebagai fase kepompong. Butuh waktu antara 2 hingga 3 minggu bagi pupa untuk berubah menjadi lalat dewasa atau maggot.

5.    Lalat BSF Dewasa

Setelah melewati fase perkembangan dari telur sampai menjadi pupa, tahap selanjutnya adalah pertumbuhan menjadi lalat BSF. Pada fase ini, lalat maggot dewasa menghabiskan waktunya hanya untuk kawin dengan tujuan bereproduksi dan lalat BSF dewasa tidak mencari makanan karena sumber makanannya berasal dari lemak yang keluar dari dalam tubuhnya sendiri.

Dengan beragam manfaat yang diperoleh, budidaya maggot dapat dijadikan sebagai ladang bisnis sampingan karena tidak memerlukan perlakuan atau teknis khusus dalam merawatnya. Siapapun bisa mengembangkan budidaya maggot termasuk peternak karena dapat menekan pengeluaran untuk membeli pakan ternak yang berkualitas.

Selain bisa dijadikan pakan ternak, maggot dapat dapat dijual sehingga menambah pemasukan. Keuntungan yang didapatkan bisa berlipat dari upaya ini. keuntungan secara finansial juga bisa didapatkan dengan mengembangkan maggot sebagai bisnis.

BIOGAS

  Biogas adalah gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yan...